Jumat, 11 Februari 2011

Gangguan pada lambung

Gastritis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok kondisi dengan satu hal yang sama: radang selaput perut Anda. Peradangan ini – gastritis sering kali adalah hasil dari infeksi bakteri yang menyebabkan radang perut yang paling sering ditemukan. Namun, banyak faktor lain – seperti cedera – traumatis, penggunaan obat penghilang rasa sakit tertentu atau minum alkohol terlalu banyak – juga dapat berkontribusi untuk terjadinya gastritis.

Gastritis dapat terjadi secara mendadak (gastritis akut) atau bisa terjadi perlahan-lahan dari waktu ke waktu (gastritis kronis). Dalam beberapa kasus, gastritis dapat menyebabkan bisul ( ulkus )pada lambung dan peningkatan risiko kanker perut. Bagi kebanyakan orang, gastritis tidaklah serius dan dapat dengan cepat mereda bahkan sembuh dengan pengobatan.

Tanda-tanda dan gejala gastritis meliputi:
* Rasa terbakar, sakit atau sakit (gangguan pencernaan) di perut bagian atas Anda yang mungkin menjadi membaik setelah lambung terisi makanan.
* Mual
* Muntah
* Kehilangan nafsu makan
* Sendawa atau kembung
* Perasaan penuh di perut bagian atas setelah makan
* Berat badan menurun.

Gastritis akut terjadi tiba-tiba dan lebih cenderung menyebabkan rasa sakit, mual dan rasa terbakar atau ketidaknyamanan di perut bagian atas. Gastritis kronis berkembang secara bertahap dan perlahan serta lebih cenderung menyebabkan rasa sakit yang tajam, perasaan penuh pada lambung atau kehilangan nafsu makan setelah makan. Bagi banyak orang, gastritis kronis sering tidak menyebabkan tanda-tanda atau gejala sama sekali.

Kadang-kadang, gastritis dapat menyebabkan pendarahan lambung, meskipun jarang sampai parah. Namun perlu diingat bahwa pendarahan di perut Anda yang menyebabkan Anda muntah darah atau muntah cairan hitam, kondisi seperti ini tentu membutuhkan perawatan medis segera.

Kapan Sebaiknya Anda ke dokter
Hampir semua orang dapat mengalami serangan dari gangguan pencernaan dan iritasi lambung. Sebagian besar kasus gangguan pencernaan terjadi hanya untuk waktu yang tidak lama dan tidak memerlukan perawatan medis. Tapi jika Anda mengalami tanda-tanda dan gejala gastritis secara konsisten selama seminggu atau lebih, segeralah hubungi dokter Anda. Dan pastikan untuk memberitahu dokter jika Anda mengalami masalah perut setelah mengambil resep obat , atau langsung membeli obat ditoko obat , terutama aspirin atau obat penghilang rasa sakit lainnya.

Demikian juga jika Anda muntah darah atau darah dalam kotoran Anda, tentu dokter Anda akan segera melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.

Gastritis biasanya terjadi ketika lapisan pelindung perut Anda menjadi lemah atau rusak. Sebuah hambatan berlapis lendir melindungi dinding perut dari asam ( HCL )yang membantu mencerna makanan Anda. Kelemahan dalam rintangan pelindung ini memungkinkan cairan asam pencernaan Anda merusak dan melukai lapisan perut Anda.

Sejumlah faktor yang dapat menyebabkan atau memicu gastritis, termasuk:

* Infeksi bakteri. Orang yang terinfeksi dengan Helicobacter pylori dapat mengalami gastritis – gastritis kronis adalah yang paling umum. Setengah populasi dunia diperkirakan terinfeksi dengan bakteri ini, yang menular dari satu orang ke orang lain. Namun sebagian besar dari mereka yang terinfeksi tidak mengalami komplikasi dari infeksi H. pylori ini. Pada beberapa orang, H. pylori dapat menghancurkan lapisan pelindung dalam perut, yang menyebabkan perubahan lapisan perut . Alasan mengapa beberapa orang mengalami komplikasi dari infeksi H. pylori dan lainnya tidak sampai saat ini tidak jelas. Namun, dokter percaya kerentanan terhadap bakteri dapat diwariskan atau bisa juga disebabkan oleh pilihan gaya hidup, seperti merokok dan tingkat stres yang tinggi.

* Penggunaan obat penghilang rasa sakit . obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen , dapat menyebabkan baik gastritis akut dan gastritis kronis. Menggunakan obat-obatan ini secara teratur atau terlalu banyak mengambil obat ini dapat mengurangi zat penting yang membantu melestarikan lapisan pelindung perut Anda.
* Menggunakan alkohol berlebihan. Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan perut Anda, yang membuat perut Anda lebih rentan terhadap cairan pencernaan (HCL). penggunaan alkohol berlebihan lebih cenderung menyebabkan gastritis akut.
* Stres. Pada stres berat akibat operasi pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis akut.
* Penyakit refluks empedu. Empedu – cairan yang membantu mencerna lemak – diproduksi di hati ( Lever ) Anda dan disimpan di kantong empedu Anda. Ketika itu dilepaskan dari kandung empedu, perjalanan empedu ke usus kecil Anda melalui serangkaian saluran yang tipis. Biasanya, otot sfingter seperti cincin (katup pilorus) mencegah empedu mengalir ke dalam perut Anda dari usus kecil . Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan baik, atau jika sudah diangkat karena operasi, empedu bisa mengalir ke perut Anda, yang menyebabkan peradangan dan gastritis kronis.
* Tubuh Anda sendiri menyerang sel-sel di perut Anda. Ini disebut dengan gastritis autoimun, ini kondisi yang jarang sekali terjadi, ketika tubuh Anda menyerang sel-sel yang membentuk lapisan perut Anda. Ini menghasilkan reaksi oleh sistem kekebalan tubuh yang dapat memakai pelindung diri pada perut Anda. Autoimmun gastritis lebih umum pada orang dengan gangguan autoimun lainnya, termasuk penyakit Hashimoto, penyakit Addison dan diabetes tipe 1. Autoimmune gastritis juga sering juga dikaitkan dengan kekurangan vitamin B-12.
* Lain – lain Kondisi dan penyakit. Gastritis dapat berhubungan dengan kondisi medis lainnya, termasuk adalah HIV / AIDS, penyakit Crohn, infeksi parasit, beberapa kelainan jaringan ikat, dan hati atau gagal ginjal.

Pengobatan Gastritis
Pengobatan gastritis tergantung pada penyebab yang ditemukan secara spesifik. Gastritis akut yang disebabkan oleh NSAID atau alkohol dapat dihilangkan dengan menghentikan penggunaan zat tersebut. Gastritis kronis yang disebabkan oleh infeksi H. pylori diperlakukan dengan memberantas bakteri penyebab. Kebanyakan rencana pengobatan gastritis juga menggabungkan obat yang dapat mengatasi asam lambung untuk mengurangi tanda dan gejala yang Anda rasakan dan mempercepat penyembuhan dalam perut Anda.

Obat untuk mengobati asam lambung
Asam perut yang meradang mengganggu jaringan di perut Anda, menyebabkan rasa sakit dan peradangan lebih lanjut. Itu sebabnya, bagi sebagian besar jenis gastritis, pengobatan melibatkan pemakaian obat untuk mengurangi atau menetralkan asam lambung, seperti:

* Antasida. Obat antasid Over-the-counter dalam bentuk cair atau tablet adalah pengobatan umum untuk gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat memberikan bantuan untuk meredakan nyeri dengan cepat.
* Asam blocker. Ketika antasida tidak memberikan bantuan yang cukup memadai, dokter mungkin akan merekomendasikan obat lainnya, seperti cimetidine , ranitidin , nizatidine (Axid) atau famotidine , dapat membantu mengurangi jumlah asam lambung Anda.
* Pengobatan dengan penekan pompa asam. ( Inhibitor pompa proton ) dapat mengurangi asam dengan memblokir aksi pompa sel ( sel yang mensekresi asam lambung Anda). Dalam katagori ini termasuk omeprazole , lansoprazole , rabeprazole dan esomeprazole .

Pengobatan infeksi H. pylori
Dokter biasanya menggunakan beberapa regimen untuk mengobati infeksi H. Pylori. Kebanyakan menggunakan kombinasi dua antibiotik dan inhibitor pompa proton. Kadang-kadang bismut (Pepto-Bismol) ditambahkan kedalam kombinasi pengobatan . Antibiotik yang membantu menghancurkan bakteri, dan inhibitor pompa proton dapat mengurangi rasa sakit dan mual, menyembuhkan inflamasi dan dapat meningkatkan efektifitas antibiotik dalam proses pengobatan.

Untuk memastikan bahwa H. pylori telah dieliminasi, dokter Anda mungkin akan melakukan serangkaian tes lagi setelah terapi.
Segeralah konsultasikan masalah Anda bila merasakan gejala penyakit Gastritis ini sebelum menjadi lebih parah.

Diet Gastritis

Jumat, 29 Januari 2010
Diet Gastritis/Maag
Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung (Medicastore, 2003). Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub mukosa lambung (Suyono, 2001). David Ovedorf (2002) mendefinisikan gastritis sebagai inflamasi mukosa gaster akut atau kronik. Pengertian yang lebih lengkap dari gastritis yaitu peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain (Reeves, 2002).

Klasifikasi
Gastritis ada 2 kelompok yaitu gastritis akut dan gastritis kronik. Tetapi gastritis kronik bukan merupakan lanjutan dari gastritis akut, dan keduanya tidak saling berhubungan. Gastritis kronik juga masih dikelompokkan lagi dalam 2 tipe yaitu tipe A dan tipe B.

Dikatakan gastritis kronik tipe A jika mampu menghasilkan imun sendiri. Tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia pernisiosa berkembang pada proses ini. Gastritis kronik tipe B lebih lazim. Tipe ini dikaitkan dengan infeksi helicobacter pylori yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.

Penyebab
Lapisan lambung menahan iritasi dan biasanya tahan terhadap asam yana kuat. Tetapi lapisan lambung dapat mengalami iritasi dan peradangan karena beberapa penyebab. Gastritis bakterialis biasanya merupakan akibat dari infeksi oleh Helicobacter pylori (bakteri yang tumbuh di dalam sel penghasil lendir di lapisan lambung).

Tidak ada bakteri lainnya yang dalam keadaan normal tumbuh di dalam lambung yang bersifat asam, tetapi jika lambung tidak menghasilkan asam, berbagai bakteri bisa tumbuh di lambung. Bakteri ini bisa menyebabkan gastritis menetap atau gastritis sementara.

Gastritis karena stres akut, merupakan jenis gastritis yang paling berat, yang disebabkan oleh penyakit berat atau trauma (cedera) yang terjadi secara tiba-tiba. Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung, seperti yang terjadi pada luka bakar yang luas, operasi besar, gagal ginjal, gagal nafas, penyakit hari yang berat, septicemia atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat. Gambaran yang sama tentang gasstritis ini disebut gastritis akut erosif. Kira-kira 90% pasien yang dirawat di ruang intensif menderita gastritis akut erosif ini.

Gastritis erosif kronis bisa merupakan akibat dari bahan iritan seperti obat-obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan non-steroid lainnya, penyakit Crohn, serta infeksi virus dan bakteri. Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orang-orang yang sehat, bisa disertai dengan perdarahan atau pembentukan ulkus (borok, luka terbuka). Gastritis ini paling sering terjadi pada alkoholis.

Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun atau penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan. Gastritis eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel darah putih) terkumpul di dinding lambung.

Gastritis atrofik terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya yang menghasilkan asam dan enzim. Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut. Gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya telah diangkat (menjalani pembedahan gastrektomi parsial). Gastritis atrofik bisa menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari makanan. Pada gastritis atrofik, infiltrat menginflamasi lamina propria dengan menghilangnya kelenjar-kelenjar. Jika atrofi gaster menjadi komplit, elemen kelenjar berkurang atau hampir tidak ada, tetapi tidak terdapat sel radang, anemia pernisiosa dapat timbul pada gastritis jenis ini.

Penyakit Ménétrier merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak diketahui. Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar dan memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita kanker lambung. Gastritis juga bisa terjadi jika seseorang menelan bahan korosif atau menerima terapi penyinaran kadar tinggi.

Dijelaskan secar ringkas oleh Hirlan tentang etiologi gstritis akut antara lain asam lambung yang sangat berlebihan, pepsin yang tinggi, obat analgetik dan inflamasi, refluks usus-lambung, minum alkohol, merokok, stres fisik misalnya karena luka bakar, sepsis dan trauma, serta bahan korosif asam dan basa kuat (misalnya lisol). Obat-obat analgesik dan antiinflamasi yang sering dikaitkan dengan gastritis adalah aspirin. Aspirin dalam dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung.

Tanda dan Gejala
Gejalanya bermacam-macam, tergantung kepada jenis gastritisnya. Biasanya penderita gastritis mengalami gangguan pencernaan (indigesti) dan rasa tidak nyaman di perut sebelah atas. Pada gastritis karena stres akut, penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau cedera) biasanya menutupi gejala-gejala lambung; tetapi perut sebelah atas terasa tidak enak.

Segera setelah cedera, timbul memar kecil di dalam lapisan lambung. Dalam beberapa jam, memar ini bisa berubah menjadi ulkus. Ulkus dan gastritis bisa menghilang bila penderita sembuh dengan cepat dari cederanya. Bila penderita tetap sakit, ulkus bisa membesar dan mulai mengalami perdarahan, biasanya dalam waktu 2-5 hari setelah terjadinya cedera. Perdarahan menyebabkan tinja berwarna kehitaman seperti aspal, cairan lambung menjadi kemerahan dan jika sangat berat, tekanan darah bisa turun. Perdarahan bisa meluas dan berakibat fatal. Pada sebagian besar kasus, gejalanya amat ringan bahkan asimptomatis. Keluhan itu misalnya nyeri pada ulu hati yang biasanya ringan.

Gejala dari gastritis erosif kronis berupa mual ringan dan nyeri di perut sebelah atas. Tetapi banyak penderita (misalnya pemakai aspirin jangka panjang) tidak merasakan nyeri. Penderita lainnya merasakan gejala yang mirip ulkus, yaitu nyeri ketika perut kosong. Jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung, gejalanya bisa berupa tinja berwarna kehitaman seperti aspal (melena), serta muntah darah (hematemesis) atau makanan yang sebagian sudah dicerna, yang menyerupai endapan kopi. Gejala lainnya dari gastritis kronik adalah anoreksia, mual-muntah, diare, sakit epigastrik dan demam. Perdarahan saluran cerna yang tak terasa sakit dapat terjadi setelah penggunaan aspirin.

Pada gastritis eosinofilik, nyeri perut dan muntah bisa disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari. Pada penyakit Méniére, gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung. Hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan lambung. Penimbunan cairan dan pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena hilangnya protein dari lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur dengan isi lambung dan dibuang dari tubuh.

Pada gastritis sel plasma, nyeri perut dan muntah bisa terjadi bersamaan dengan timbulnya ruam di kulit dan diare. Gastritis akibat terapi penyinaran menyebabkan nyeri, mual dan heartburn (rasa hangat atau rasa terbakar di belakang tulang dada), yang terjadi karena adanya peradangan dan kadang karena adanya tukak di lambung. Tukak bisa menembus dinding lambung, sehingga isi lambung tumpah ke dalam rongga perut, menyebabkan peritonitis (peradangan lapisan perut) dan nyeri yang luar biasa. Perut tampak kaku dan keadaan ini memerlukan tindakan pembedahan darurat. Kadang setelah terapi penyinaran, terbentuk jaringan parut yang menyebabkan menyempitnya saluran lambung yang menuju ke usus dua belas jari, sehingga terjadi nyeri perut dan muntah. Penyinaran bisa merusak lapisan pelindung lambung, sehingga bakteri bisa masuk ke dalam dinding lambung dan menyebabkan nyeri hebat yang muncul secara tiba-tiba.

Diet Pada Gastritis
Diet pada penderita gastritis adalah diet lambung. Prinsip diet pada penyakit lambung bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet lambung dilaksanakan berdasarkan kehendak pasien. Prinsip diet diantaranya pasien dianjurkan untuk makan secara teratur, tidak terlalu kenyang dan tidak boleh berpuasa. Makanan yang dikonsumsi harus mengandung cukup kalori dan protein (TKTP) namun kandungan lemak/minyak, khususnya yang jenuh harus dikurangi. Makanan pada diet lambung harus mudah dicernakan dan mengandung serat makanan yang halus (soluble dietary fiber). Makanan tidak boleh mengandung bahan yang merangsang, menimbulkan gas, bersifat asam, mengandung minyak/ lemak secara berlebihan, dan yang bersifat melekat. Selain itu, makanan tidak boleh terlalu panas atau dingin.

Tujuan diet ini adalah untuk menghilangkan gejala penyakit, menetralisir asam lambung, mengurangi gerakan paristaltik lambung serta memperbaiki kebiasaan makan penderita. Dengan cara itu diharapkan luka di dinding lambung perlahan-lahan akan sembuh. Syarat diet penyakit gastritis Makanan yang disajikan harus mudah dicerna, tidak merangsang tetapi dapat memenuhi kebutuhan energi dan gizi, jumlah energipun harus disesuaikan dengan kebutuhan penderita. Sebaliknya, asupan protein harus cukup tinggi (sekitar 20-25% dari total jumlah energi yang biasa diberikan), sedangkan lemak perlu dibatasi. Protein berperan dalam menetralisir asam lambung. Bila terpaksa menggunakan lemak, pilih jenis lemak yang mengandung jenis asam lemak tak jenuh. Pemberian lemak atau minyak perlu dipertimbangka dengan teliti. Lemak yang berlebihan dapat menimbulkan rasa mual, rasa tidak enak di ulu hati dan muntah karena tekanan dari dalam lambung meningkat.

Mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh secukupnya merupakan pilihan tepat, sebab lemak jenis ini lebih mudah di cerna. Porsi makanan yang diberikan dalam porsi kecil tapi sering. Kebutuhan zat gizi Jenis energi yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan berat badan dan umur penderita. Jenis dan bentuk makanan

Sebaiknya penderita gastritis menghindari makanan yang bersifat merangsang, diantaranya makanan berserat dan penghasil gas maupun mengandung banyak bumbu-bumbu rendah. Selain itu perlu memperhatikan tehnik memasaknya, direbus, dikukus, atau dipanggang adalah tehnik masak yang dianjurkan. Sebaliknya, menggoreng bahan makanan tidak dianjurkan. Menurut Persagi (1999) dikenal jenis diet untuk penderita penyakit gastritis. Diet ini disesuaikan dengan berat ringannya penyakit. Diit Lambung I Di berikan pada penderita gastritis berat yang disertai pendarahan. Jenis makanan yang diberikan, meliputi susu dan bubur susu yang diberikan setiap 3 jam sekali. Diit Lambung II Untuk penderita gastritis akut yang sudah dalam perawatan. Makanan yang diberikan merupakan makanan saring atau cincang pemberiannya sama 3 jam sekali. Diit Lambung III Untuk penderita gastritis yang tidak begitu berat atau ringan. Bentuk makanan harus lunak dan diberikan enam kali sehari. Diit Lambung IV Orst ini diberikan pada penderita gastritis ringan, makanan dapat berbentuk lunak atau biasa. Jenis makanan yang boleh diberikan pada penyakit gastritis

Sumber hidrat arang (nasi atau penggantinya) Beras, dibubur atau ditim, kentang direbus atau dipures, makaroni, mi bihun direbus, roti, biskuit, marie, dan tepung-tepungan dibuat bubur atau puding. Sumber protein hewani (daging atau penggantinya) Ikan, hati, daging sapi empuk, ayam digiling atau dicincang dan direbus, disemur, ditim, atau dipanggang, telur ayam direbus, didadar, diceplok air, atau dicampurkan dalam makanan, susu. Sumber protein nabati Tahu, tempe, direbus, ditim atau ditumis, kacang hijau direbus dan dihaluskan. Lemak Margarin, minyak (tidak untuk menggoreng) dan santan encer. Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas, misalnya : bayam, labu siam, wortel, tomat direbus atau ditumis. Buah-buahan Pepaya, pisang rebus, sawo, jeruk garut, sari buah (sebaiknya dimakan bersama nasi).

Bumbu-bumbu Gula, garam, vetsin, kunyit, kunci, sereh, salam, lengkuas, sedikit jahe, dan bawang. Jenis-jenis makanan yang tidak boleh diberikan pada penyakit gastritis Sumber hidrat arang Beras ketan atau wajik, bulgur, jagung, ubi singkong, kentang goreng, cake, dodol, dan kue yang terlalu manis. Sumber protein hewani Daging, ikan, ayam yang dikalengkan, digoreng, dikeringkan (dendeng), telur ceplok atau goreng. Sumber protein nabati Tahu, tempe digoreng, kacang merah, kacang tanah digoreng Lemak Lemak hewan, santan kental Sayuran Sayuran yang banyak serat dan menimbulkan gas, sayuran mentah. Buah-buahan Buah yang banyak serat dan menimbulkan gas, misalnya jambu biji, nanas, kedondong, durian, nangka, dan buah yang dikeringkan (sale pisang, manisan pala, dan sebagainya). Bumbu-bumbu Lombok atau cabai, merica, cuka dan bumbu-bumbuan yang merangsan.

Penatalaksanaan gastritis Gastritis akut Gastritis akut diatasi dengan mengintruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas.

Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralisasian agen penyebab : Untuk menetralisasi asam, digunakan antasida umum (misal : aluminium hidroksida) untuk menetralisasi alkali, digunakan jus lemon encer atau cuka encer. Bila korosi luas atau berat, emetik dan lavasz dihindari karena bahaya perforasi Terapi pendukung mencakup intubasi, analgesik dan sedatir, antasida serta cairan intravena. Endoscopy fiberoptik mungkin diperlukan. Pembedahan serta mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastro J & Junostomi atau reaksi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus.

Gastritis kronis Diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat, mengurangi stres dan memulai farmokoterapi, H pylory dapat diatasi dengan gastritis A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan oleh adanya antibodi terhadap faktor intrinsik.

Beberapa makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis antara lain garam, alkohol, rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau, beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat. Beberapa macam jenis obat juga dapat memicu terjadinya gastritis. Garam dapat mengiritasi lapisan lambung. Beberapa penelitian menduga bahwa makanan begaram meningkatkan resiko pertumbuhan infeksi Helicobacter pylori. Gastritis juga biasa terjadi pada alkoholik. Perokok berat dan mengkonsumsi alkohol berlebihan diketahui menyebabkan gastritis akut. Makanan yang diketahui sebagai iritan, korosif, makanan yang bersifat asam dan kopi juga dapat mengiritasi mukosa labung.

Pengobatan
Pengobatan umum terhadap gastritis adalah menghentikan atau menghindari faktor penyebab iritasi, pemberian antasid dan simptomatik lain, dan pada gastritis atrofik dengan anemia pernisiosa diobati dengan B12 intramuskuler (hydroxycobalamin atau cyanocobalamin).

Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan bismuth, antibiotik (misalnya amoksisilin dan klaritromisin) dan obat anti-tukak (omeprazol). Penderita gastritis karena stres akut banyak yang mengalami penyembuhan setelah penyebabnya (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2% penderita gastritis karena stres akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal.

Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan antasid (untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat karena gastritis akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan pada tindakan endoskopi. Jika perdarahan berlanjut, mungkin seluruh lambung harus diangkat.

Eradikasi Helicobacter pylori merupakan cara pengobatan yang dianjurkan untuk gastritis kronis yang ada hubungannya dengan infeksi oleh kuman tersebut. eradikasi dapat mengembalikan gambaran histopatologi menjadi normal kembali. Eradikasi dapat dicapai dengan pemberian kombinasi penghambat pompa proton dan antibiotik. Antibiotik dapat berupa tetrasiklin, metronidasol, klaritromisin, dan amoksisilin. Kadang-kadang diperlukan lebih dari satu macam antibiotik untuk mendapatkan hasil pengobatan yang baik.

Gastritis erosif kronis bisa diobati dengan antasid. Penderita sebaiknya menghindari obat tertentu (misalnya aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi resiko terbentuknya ulkus karena obat anti peradangan non-steroid. Untuk meringankan penyumbatan di saluran keluar lambung pada gastritis eosinofilik, bisa diberikan kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.

Gastritis atrofik tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar penderita harus mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12. Gastiritis karena penyakit Ménétrier bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung. Sedangkan gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung.

Gastritis atau Maag

GASTRITIS / MAAG
A. PENGERTIAN
 Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung.
 Gastritis adalah perdangan pada lambung dan merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya anoreksia, rasa penuh dan tidak enak pada epigastrium, mual dan muntah.

B. JENIS
Gastritis menurut jenisnya terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Gastritis Akut
• Merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabya dengan tanda dan gejala yang khas. Biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil

2. Gastritis Kronik
• Penyebabnya tidak jelas, sering bersifat multi faktor dengan perjalanan klinik yang bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan infeksi H. pylori.

C. ETIOLOGI
Penyebab atau etiologi gastritis ini akan dijelaskan menurut jenis gastritis (Akut-Kronis).
1. ETIOLOGI GASTRITIS AKUT :
Penyebab penyakit jenis ini, antara lain :
• Obat-obatan : Aspirin, terutama salycylat, indomethacin, sulfonamide, obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) dan steroid.
• Alkohol Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar, sepsis
• Refluk empedu
• Terapi radiasi
• Mencerna asam atau alkali kuat, dll.
Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi berbeda.
- Jika karena stress erosi ditemukan pada korpus dan fundus.
- Jika karena AINS erosi terutama ditemukan di daerah antrum, namun dapat juga menyeluruh.
Secara mikroskopik, terdapat erosi dengan regenerasi epitel, dan ditemukan reaksi sel inflamasi neutrofil yang minimal

2. ETIOLOGI GASTRITIS KRONIS :
Ulkus benigna atau maligna dari lambung atau oleh Helicobacter pylory
(H. pylori)

D. PATOFISIOLOGI
Terdapat gangguan keseimbangan faktor agresif dan faktor defensif yang berperan dalam menimbulkan lesi pada mukosa. Faktor-faktor tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 1. Faktor Agresif dan Protektif

Faktor Agresif Faktor Defensif
• Asam lambung
• Pepsin
• Obat anti inflamasi non steroid (AINS)
• Empedu
• Urea
• Infeksi virus
• Infeksi bakteri; Helicobacter Pylory (H. pylory)
• Bahan korosif; Asam & Basa kuat • Mukus
• Bikarbonas mukosa
• Aliran darah mukosal
• Regenerasi epitel
• Prostaglandin mikrosirkulasi

Untuk lebih detailnya akan dijelaskan patofisiologi gastritis (Akut dan Kronis), sebagai berikut :
Obat-obatan, alkohol, garam empedu atau enzim-enzim pankreas dapat merusak mukosa lambung (gastritis erosif), mengganggu pertahanan mukosa lambung dan memungkinkan difusi kembali asam dan pepsin ke dalam jaringan lambung, hal ini menimbulkan peradangan. Respon mukosa lambung terhadap kebanyakan penyebab iritasi tersebut adalah dengan regenerasi mukosa, karena itu gangguan-gangguan tersebut seringkali menghilang dengan sendirinya.
Dengan iritasi yang terus menerus, jaringan menjadi meradang dan dapat terjadi perdarahan.
Masuknya zat-zat seperti asam dan basa kuat yang bersifat korosif mengakibatkan peradangan dan nekrosis pada dinding lambung (gastritis korosif). Nekrosis dapat mengakibatkan perforasi dinding lambung dengan akibat berikutnya perdarahan dan peritonitis.
Gastritis kronis dapat menimbulkan keadaan atropi kelenjar-kelenjar lambung dan keadaan mukosa terdapat bercak-bercak penebalan berwarna abu-abu atau abu-abu kehijauan (gastitis atropik). Hilangnya mukosa lambung akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya sekresi lambung dan timbulnya anemia pernisiosa. Gastritis atropik boleh jadi merupakan pendahuluan untuk karsinoma lambung. Gastritis kronis dapat pula terjadi bersamaan dengan ulkus peptikum atau mungkin terjadi setelah tindakan gastroyeyunostomi.
Gastritis kronis dapat diklasifikasikan tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan atropi dan infiltrasi sel. Hal ini dihubungkan dengan penyakit otoimun, seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung.
Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H. pylory) Ini dihubungkan dengan bakteri H. pylory, faktor diet seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan dan alkohol, merokok atau refluks isi usus kedalam lambung.

E. MANIFESTASI KLINIK
1. GASTRITIS AKUT :
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia tertentu.

2. GASTRITIS KRONIS :
Kebanyakan pasien tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri uluhati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan.

F. KOMPLIKASI
1. GASTRITIS AKUT :
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh gastritis akut adalah perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir sebagai syock hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptik. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak peptik penyebab utamanya adalah H. pylory, sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan endoskopi.

2. GASTRITIS KRONIS :
Perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan absorpsi vitamin B12.

G. EVALUASI DIAGNOSTIK
1. Tipe A berkaitan dengan tidak adanya atau rendahnya kadar asam hidroklorida
2. Tipe B berkaitan dengan hiperklorida
3. Gastroskopi, gastrointestinal bagian atas, serangkaian pemeriksaan sinar-x, dan pemeriksaan histologis. Pada pemeriksaan Endoskopi di dapatkan adanya gambaran lesi mukosa akut dimukosa lambung berupa erosi atau ulkus dangkal dengan tepi rata.

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan gastritis secara umum adalah menghilangkan faktor utama yaitu etiologinya, diet lambung dengan porsi kecil dan sering, serta Obat-obatan. Namun secara spesifik dapat dibedakan sebagai berikut :
1. GASTRITIS AKUT :
• Pantang minum alkohol dan makan sampai gejala-gejala menghilang; ubah menjadi diet yang tidak mengiritasi
• Jika gejala-gejala menetap, mungkin diperlukan cairan IV.
• Jika terdapat perdarahan, penatalaksanaannya serupa dengan hemoragie yang terjadi pada saluran gastrointestinal bagian atas
• Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali, encerkan dan netralkan asam dengan antasida umum, misalnya aluminium hidroksida, antagonis reseptor H2, inhibitor pompa proton, antikolinergik dan sukralfat (untuk sitoprotektor).
• Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang encer atau cuka yang di encerkan
• Jika korosi parah, hindari emetik dan bilas lambung karena bahaya perforasi

2. GASTRITIS KRONIS :
• Modifikasi diet, reduksi stress, dan farmakoterapi
• H. phylory mungkin diatasi dengan antibiotik (mis; tetrasiklin atau amoxicillin) dan garam bismuth (pepto bismol)



DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C. (2000). Keperawatan Medikal-Bedah ; buku saku untuk Brunner dan Suddarth, EGC, Jakarta.

Long, Barbara C. (1989). Essential Of Medical-Surgical Nursing; A Nursing Process Approach, C.V. Mosby Company St. Louis, USA.

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Ed. 2, EGC, Jakarta
Corwin, Elizabeth J. (2000). Buku saku Patofisiologi, EGC, Jakarta

Mansjoer, Arief. (1999). Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3, Media Aesculapius, Jakarta

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, Ed.8, EGC, Jakarta.

Senin, 20 Desember 2010

Reading comprehension

Reading comprehension
Like many American standardized test, reading comprehension question materials include a wide variet of topics-- history, science, music, arts, geography etc. ETS always emphasizes that should such materials involve facts, they belong to those of the United States or the North America countries and that no specific knowledge of any kind is required (to master the reading comprehension passage). Probably true, and you don’t expect to be familiar with them However, in my personal view, basic knowledge in American history or society could help you predict the passage as a whole or at least could fill the gap you don’t thoroughly understand.
Anyway, the best strategy in reading is to practice more. Accuracy is the first priority for those who find it difficult in this section. After some practices, speed will come naturally.